Gunung Longfeng menjulang dengan megah di bawah sinar matahari siang yang terik. Langit biru tanpa awan membentang luas, sementara angin gunung bertiup sejuk, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan liar. Di kejauhan, puncak-puncak gunung lainnya terlihat samar, diselimuti kabut tipis yang bergerak perlahan seolah menari bersama angin.

Di lereng gunung, pepohonan tinggi berdiri kokoh dengan daun hijau berkilau diterpa cahaya mentari. Suara gemericik air mengalir dari sungai kecil yang berkelok di antara bebatuan, berpadu dengan kicauan burung liar yang sesekali melintas di udara.

Di sebuah dataran kecil yang agak tersembunyi oleh rimbunan pepohonan, tiga sosok pemuda masih duduk di tempat mereka bermalam sebelumnya.

"Kael, apa yang kita lakukan sekarang? Kepala suku sudah pergi terlalu lama." Karim akhirnya memecah kesunyian, matanya menatap Kael yang sedang mengasah pisau belati dengan penuh konsentrasi.

Cahaya matahari memantul di permukaan bilah belati itu, memperlihatkan bentuk yang identik dengan belati yang pernah dimilikinya—belati yang tertinggal saat mereka ditangkap oleh Suku Monrest.

Kael tidak menghentikan gerakannya dan hanya menjawab singkat, "Kita tunggu sebentar lagi."

Karim menghela napas, lalu menoleh ke Arkha yang tampak duduk bersandar pada batang pohon.

"Karim, jika kita pergi, kemungkinan bertemu kepala suku akan semakin kecil. Karena itu, kita hanya bisa menunggunya di sini," ujar Arkha, menyetujui keputusan Kael.

Karim terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali membuka suara, "Bukankah kepala suku tadi menyebutkan nama Ling Mei? Mungkinkah dia pergi ke Sekte Api Langit?"

Sebelum ada yang sempat menjawab, sebuah suara tiba-tiba menyela.

"Kalau memang dia ke sana, lalu apa rencanamu?"

Karim tersentak dan refleks menjawab tanpa berpikir panjang, "Tentu saja kita akan menyusul kepala suku—"

Namun, saat kesadarannya pulih, ia membeku seketika. Bersama Arkha dan Kael, dia segera berdiri, mencabut senjata mereka, dan bersiaga menghadapi sosok yang tiba-tiba muncul di antara mereka.

Kael adalah yang pertama mengenali siluet tersebut. Matanya menyipit sebelum akhirnya berkata dengan nada tenang, "Lynx?"

Sosok itu mengangguk, lalu melepaskan helmnya, memperlihatkan wajah yang sudah lama mereka kenal.

"Wah, kepala suku terlihat sangat keren dan misterius!" seru Karim kagum.

Lynx tersenyum tipis sambil mengamati ekspresi mereka.

"Bagaimana? Apakah kau menyukainya?" tanya Kael dengan nada santai. "Dengan pakaian itu, tidak ada yang akan mengenalimu dengan mudah."

Arkha mengangguk setuju. "Betul, kepala suku. Aku pun sempat tidak mengenalimu tadi. Tapi karena pernah melihat Kael mengenakannya saat dibuat oleh Lala, aku bisa menyadarinya."

Lynx tertawa kecil, menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal. "Bagus sih, aku menyukainya. Tapi... bagaimana cara aku melepaskannya?" tanyanya polos.

Arkha, Kael, dan Karim saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya meledak dalam tawa. Suasana yang tadinya tegang berubah menjadi lebih hangat, dipenuhi canda dan tawa yang sudah lama mereka rindukan.

Kael akhirnya berhenti tertawa dan menatap Lynx. "Di mana artefak yang kuberikan padamu? Kau hanya perlu menyalurkan sedikit Qi ke arahnya sambil membayangkan pakaian itu menghilang. Untuk mengenakannya kembali, cukup lakukan hal yang sama. Cara kerjanya sama dengan artefak lainnya."

Lynx mengerutkan kening. "Aku tidak kepikiran ke arah sana," gumamnya, lalu mengeluarkan artefak itu dari cincin penyimpanan.

Karim yang melihatnya langsung berseru kaget. "Kepala suku, kau punya cincin penyimpanan? Aku sebelumnya sempat bertanya-tanya dari mana asal makanan yang kau bawa!"

Lynx mengangkat alis. "Apa kalian tidak memilikinya?"

Karim menghela napas. "Hanya Kael yang punya, itu pun hanya kantong penyimpanan, bukan cincin. Bahannya sulit didapat dan harganya sangat mahal."

Lynx mengangguk paham, lalu mencoba menyalurkan Qi ke artefak di tangannya. Dalam sekejap, pakaian tempur yang melekat di tubuhnya menghilang, digantikan oleh pakaian yang biasa ia kenakan.

"Terima kasih, Kael. Tapi apakah kau tidak membutuhkannya?" Lynx bertanya, menatap pemuda itu dengan ekspresi ragu.

Kael tersenyum, lalu melepaskan sabuk di pinggangnya dan menyerahkannya kepada Lynx. "Kau lebih membutuhkannya agar tidak menarik perhatian. Aku masih bisa menggunakan cara lain untuk bersembunyi, tapi jika kau mengenakan pakaian itu, orang-orang akan mengira kekuatanmu berasal dari pakaian itu sendiri."

Lynx menerima sabuk itu dan menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Apa fungsinya?"

"Ini pasangan artefak tersebut. Kau bisa menyimpannya di cincin penyimpanan atau memasangnya di sabuk. Jika kau memasangnya, kau tak perlu repot mengeluarkannya. Saat dibutuhkan, cukup salurkan Qi ke sabuk dan pakaian akan langsung muncul," jelas Kael.

Mata Lynx berbinar. "Ini keren, Kael! Di duniaku, ada film anak-anak tentang seorang jagoan yang bisa berubah bentuk. Dengan sabuk ini, aku juga bisa melakukan hal yang sama... bedanya, kekuatanku bukan dari pakaian ini, tapi untuk menyembunyikan kemampuanku."

"Film?" Arkha dan Karim bertanya hampir bersamaan. Mereka menatap Lynx dengan bingung, merasa asing dengan kata itu.

Lynx tersenyum tipis. "Film itu mirip seperti pentas drama, tapi untuk hiburan," jawabnya singkat.

Arkha dan Karim saling berpandangan, masih belum sepenuhnya memahami, tapi akhirnya mengangguk, menerima jawaban itu begitu saja.

Sabuk yang diberikan Kael kepada Lynx tampak sederhana namun memiliki bahan dari kulit binatang iblis yang sangat kuat. Berwarna hitam yang kokoh, sabuk ini terlihat seperti perlengkapan biasa bagi orang awam, tetapi memiliki formasi khusus di dalamnya. Bagian tengah sabuk, terdapat tempat untuk memasukkan artefak, memiliki bingkai berbentuk oval yang terbuat dari logam gelap dengan ukiran halus menyerupai pola aliran energi.

Begitu artefak dimasukkan, benda itu langsung menyatu dengan mata sabuk, mengeluarkan kilatan cahaya samar. Ukiran di sekitar bingkai berpendar sesaat sebelum kembali normal, seolah menerima artefak sebagai bagian dari mekanismenya.

Lynx menatap sabuk itu dengan penuh minat. "Mari kita coba," gumamnya, lalu menyalurkan Qi ke dalam sabuk.

Dalam sekejap, benang-benang energi merajut dirinya sendiri, menciptakan serat-serat logam membentuk pakaian yang melapisi seluruh tubuh Lynx dalam hitungan detik. Pakaian tempur itu terbentuk dengan sempurna, mengikuti bentuk tubuhnya, sementara helm muncul secara otomatis menutupi kepalanya.

Lynx mengepalkan tangannya, merasakan kekokohan perlengkapan itu. Kemudian, dengan pikiran sederhana, ia menyalurkan Qi sekali lagi. Pakaian itu segera menghilang, kembali ke dalam artefak.

"Keren," Lynx tersenyum kecil. "Tapi kupikir desainnya perlu kuubah nanti."

"Kael, bagaimana bisa pakaianmu ini masih ada? Aku sudah lama tidak melihatmu menggunakannya." Tanya Lynx penasaran.

"Saat kita bersiap untuk pertarungan dengan suku Monrest, aku menggunakan pakaian tempurku ini untuk persiapan melawan mereka. Itu sebabnya pakaian ini masih ada karena aku memakainya saat itu." Jawab Kael.

Kael lalu melanjutkan,"Lala yang sedang mempelajari cara kerja artefak, menggunakan pakaianku untuk menjadi alat percobaannya. Karena kurasa berguna dan praktis, aku memintanya untuk aku gunakan seandainya perlu alat penyamaran."

Karim menatap Lynx dengan mata berbinar. "Dunia ini memang sangat berbeda dengan dunia kita sebelumnya. Orang-orang di sini seperti penyihir yang sering diceritakan oleh Nenek Drona. Banyak hal-hal aneh seperti artefak, belum lagi kemampuan Kultivasi."

Lynx mengernyit. "Penyihir? Aku sudah lama penasaran saat kalian menyebut tentang sihir. Bagaimana mungkin kalian bisa mengenal kata sihir?" tanyanya santai.

Lynx teringat kenangan saat dia masih ada di pulau, dimana dia mendengar tentang kata sihir dipulau, Lynx saat itu beranggapan bahwa sihir hanyalah kosakata yang dibawa leluhur suku-suku di pulau yang berasal dari dimensi berbeda dan membawa kisah tentang penyihir. Lynx tidak pernah membayangkan jika memang ada keturunan penyihir ditempat tersebut. Namun mendengar perkataan Karim membuatnya agak penasaran.

Arkha menatapnya dengan serius. "Apakah kepala suku tidak mengetahui? Salah satu suku di pulau kita adalah keturunan penyihir. Ada banyak kisah tentang leluhur mereka, tetapi karena tidak adanya energi sihir di pulau, keturunan mereka hanya bisa menjadi manusia biasa. Aku mengira kepala suku sudah mengetahui tentang hal ini."

Lynx dan Kael saling bertukar pandang, mereka sama-sama terkejut mendengar fakta tentang hal tersebut.

"Apa? Jadi ada penyihir yang hidup bersama kita selama ini?" Kael bertanya dengan nada tidak percaya.

